Misa Kematian dari Sebuah Mimpi (PT. 2)

Pagi itu keadaan rumah sangat sepi. Lelaki tua itu sudah terbangun sejak pukul 3 pagi. Ia sudah sibuk mengutak-atik mobil tua di garasinya. Istrinya masih terlelap dalam tidur. Hari itu ia perlu pergi ke sebuah tempat yang jauh. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, pikirnya.

Ada sebuah keheningan panjang saat matahari belum menampakkan dirinya. Keheningan yang membuat waktu seakan berhenti sementara, di antara gelap dan dingin yang menyelimuti. Dalam keheningan tersebut, seorang lelaki tua berkendara. Memecah sunyi, menembus dinginnya udara pagi yang masih terlalu dini di pinggiran kota yang sangat jauh dari keramaian. Mukanya letih, rambut putihnya masih acak-acakan. Dengan mengenakan jaket kulit berwarna cokelat pemberian istrinya, ia sarungkan pistol revolver tua itu di saku dalamnya. Di benaknya hanya ada satu tujuan.

Pukul 9 pagi. Di sudut jalan utama kota itu sekumpulan orang ramai bergerombol dan riuhnya terdengar hingga ujung jalan lainnya. Seorang pejabat tinggi negara bagian tersebut sedang berkunjung dan menyampaikan pidatonya. Banyak masyarakat di sekitar kota tersebut yang datang dengan antusias. Terlihat lelaki tua itu berdiri di antara riuh rendah masyarakat yang menyambut gembira janji-janji pejabat tersebut dalam pidatonya. Dia sudah siap.

Tepat pukul 9.15 pagi. Terdengar suara sebuah tembakan berbaur dengan keramaian dan berikutnya diiringi dengan suara tembakan-tembakan lainnya.

Pukul 9.30 pagi. Sang istri terbangun dari tidurnya. Entah kenapa sakit kepala yang ia rasakan sejak tadi malam belum jua hilang. Dia meraba sisi ranjang yang lain tanpa berpaling hanya untuk mengetahui bahwa suaminya sudah tidak ada disana. Dalam keadaan sakit kepala itu, ia berdiri dan mencoba berjalan ke dapur. Tidak ada juga. Ia menggapai kotak obat di atas lemari persis di sebelah kulkasnya, lalu mengambil beberapa butir aspirin. Setelah merasa sedikit lebih enak, ia berjalan ke luar rumah, dan melihat pintu garasinya masih terbuka dengan mobilnya yang sudah tidak ada.

Buru-buru ia memeriksa di meja ruang tamu, apakah ada telepon genggam milik suaminya. Tidak ada juga. Ia menelepon suaminya.

Di sudut jalan utama kota itu, masyarakat berkerumun di pinggir marka batas kepolisian setempat. Mobil-mobil ambulans sudah terparkir dan tenaga medisnya telah sibuk kesana kemari. Polisi sibuk mengatur awak media massa dengan microphone dan kameranya yang ganas bak burung-burung nasar yang mengerumuni bangkai.

Di tengah-tengah keramaian itu, sepasang jenazah terbaring.
Sayup-sayup, terdengar dering telepon genggam dari saku celana di salah satunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s